Boraks
maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan dalam dosis
berlebihan, tetapi ironisnya penggunaan boraks dalam dosis berlebihan sebagai
komponen dalam makanan sudah meluas di seluruh dunia. Mengkonsumsi makanan
berboraks dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan gangguan otak,
hati,
dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam,
anuria
(tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan
depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan,
hingga kematian. Batas aman/legal penggunaan boraks dalam makanan adalah 1 gram
/ 1 kg pangan
Bleng atau
boraks biasanya dipakai dalam pembuatan makanan berikut ini:
- karak/lèmpèng (kerupuk beras), sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk)
- mi
- lontong, sebagai pengeras
- ketupat, sebagai pengeras
- bakso, sebagai pengawet dan pengeras
- kecap, sebagai pengawet
- cenil, sebagai pengeras
MUI
berwacana untuk membuat fatwa haram penggunaan boraks dalam jumlah berlebih
(> 1 gr/kg pangan) pada bulan Agustus 2012.
Standarisasi HCl dengan borax
menggunakan borax yang dilarutkan dengan akuades. Borax dilarutkan karena borax
berbentuk kristal sehingga tidak bisa dititrasi secara langsung. Zat yang bisa
dititrasi secara langsung adalah zat yang memiliki fase cair dengan reaksi
pelarutan sebagai berikut :
Na2B4O7
+ 2H2O → 2NaOH + H2B4O7
Setelah itu ditambahkan indikator
metil merah sebagai zat yang dapat menandakan tercapainya titik akhir titrasi.
Penambahan metil merah mengakibatkan warna larutan borak berubah menjadi
kuning. Hal ini dikarenakan indikator metil merah yang memiliki trayek PH
sebesar 4,2-6,3 berwarna kuning dalam larutan basa, kemudian larutan tersebut
dititrasi dengan HCl 0,1 N. Titrasi dilakukan hingga titik akhir titrasi
tercapai saat larutan yang berwarna kuning berubah menjadi merah muda.
Perubahan warna ini terjadi karena mol titran sama dengan mol titrat dan
indikator bereaksi dengan HCl. Adanya ion H+ dari HCl yang
mengakibatkan terjadinya perubahan pH larutan dan mempengaruhi warna indikator
dalam larutan.
|
I-13
|
Pembakuan HCl
menggunakan borax karena borax adalah suatu standar primer yang mudah didapat
dalam keadaan murni, borax ttidak berkurang beratnya sewaktu terkena udara,
mudah dikeringkan dan tidak higroskopik. Serta memiliki berat ekivalen yang
cukup tinggi agar dapat mengurangi konsekuensi akibat kesalahan dalam
penimbangan. Setelah melakukan dua kali titrasi didapatkan voume HCl untuk
titrasi pertama adalah 11,1 mL dan volume HCl untuk titrasi kedua adalah 18,2
mL. Perbedaan volume titrasi pertama dan kedua yang jauh dikarenakan pada
titrasi kedua menggunakan alat yang digunakan pada titrasi pertama. Meskipun
telah dicuci namun adanya zat yang tertinggal dari titrasi pertama pada
erlenmeyer dapat mempengaruhi volume titran yang digunakan pada titrasi kedua,
karena waktu untuk mencapai titik ekivalen semakin lama. Adapun rata-rata
volume titrannya adalah 14,65 mL. Dari perhitungan diperoleh normalitas HCl
setelah di standarisasi sebesar 0,0709 N. Reaksi yang terjadi adalah :
Na2B4O7
+ 2 HCl + 5 H2O → 2NaCl + 4H3BO3

0 komentar:
Posting Komentar