Features Title Here. Consectetur adipisicing

Features Content Here. Sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

boraks

Selasa, 04 Desember 2012


Boraks maupun bleng tidak aman untuk dikonsumsi sebagai makanan dalam dosis berlebihan, tetapi ironisnya penggunaan boraks dalam dosis berlebihan sebagai komponen dalam makanan sudah meluas di seluruh dunia. Mengkonsumsi makanan berboraks dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, hingga kematian. Batas aman/legal penggunaan boraks dalam makanan adalah 1 gram / 1 kg pangan
Bleng atau boraks biasanya dipakai dalam pembuatan makanan berikut ini:
  • karak/lèmpèng (kerupuk beras), sebagai komponen pembantu pembuatan gendar (adonan calon kerupuk)
  • mi
  • lontong, sebagai pengeras
  • ketupat, sebagai pengeras
  • bakso, sebagai pengawet dan pengeras
  • kecap, sebagai pengawet
  • cenil, sebagai pengeras
MUI berwacana untuk membuat fatwa haram penggunaan boraks dalam jumlah berlebih (> 1 gr/kg pangan) pada bulan Agustus 2012.
Standarisasi HCl dengan borax menggunakan borax yang dilarutkan dengan akuades. Borax dilarutkan karena borax berbentuk kristal sehingga tidak bisa dititrasi secara langsung. Zat yang bisa dititrasi secara langsung adalah zat yang memiliki fase cair dengan reaksi pelarutan sebagai berikut :
Na2B4O7 + 2H2O → 2NaOH + H2B4O7
Setelah itu ditambahkan indikator metil merah sebagai zat yang dapat menandakan tercapainya titik akhir titrasi. Penambahan metil merah mengakibatkan warna larutan borak berubah menjadi kuning. Hal ini dikarenakan indikator metil merah yang memiliki trayek PH sebesar 4,2-6,3 berwarna kuning dalam larutan basa, kemudian larutan tersebut dititrasi dengan HCl 0,1 N. Titrasi dilakukan hingga titik akhir titrasi tercapai saat larutan yang berwarna kuning berubah menjadi merah muda. Perubahan warna ini terjadi karena mol titran sama dengan mol titrat dan indikator bereaksi dengan HCl. Adanya ion H+ dari HCl yang mengakibatkan terjadinya perubahan pH larutan dan mempengaruhi warna indikator dalam larutan.
I-13
Pembakuan HCl menggunakan borax karena borax adalah suatu standar primer yang mudah didapat dalam keadaan murni, borax ttidak berkurang beratnya sewaktu terkena udara, mudah dikeringkan dan tidak higroskopik. Serta memiliki berat ekivalen yang cukup tinggi agar dapat mengurangi konsekuensi akibat kesalahan dalam penimbangan. Setelah melakukan dua kali titrasi didapatkan voume HCl untuk titrasi pertama adalah 11,1 mL dan volume HCl untuk titrasi kedua adalah 18,2 mL. Perbedaan volume titrasi pertama dan kedua yang jauh dikarenakan pada titrasi kedua menggunakan alat yang digunakan pada titrasi pertama. Meskipun telah dicuci namun adanya zat yang tertinggal dari titrasi pertama pada erlenmeyer dapat mempengaruhi volume titran yang digunakan pada titrasi kedua, karena waktu untuk mencapai titik ekivalen semakin lama. Adapun rata-rata volume titrannya adalah 14,65 mL. Dari perhitungan diperoleh normalitas HCl setelah di standarisasi sebesar 0,0709 N. Reaksi yang terjadi adalah :
Na2B4O7 + 2 HCl + 5 H2O → 2NaCl + 4H3BO3


0 komentar:

Posting Komentar